<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9039865601743739773</id><updated>2011-09-09T20:14:57.127-07:00</updated><category term='Surat Tahun Pertama'/><category term='test post'/><category term='Laliv'/><category term='coffee'/><category term='1991'/><category term='biodata'/><title type='text'>dreamscape.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sleeproject.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9039865601743739773.post-7783079554446292210</id><published>2009-10-19T03:06:00.001-07:00</published><updated>2009-10-19T03:06:51.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1991'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Laliv'/><title type='text'>Toko Tongkat #1</title><content type='html'>Perjalanan menuju Laliv tidak sepenuhnya dapat dikatakan menyenangkan. Pertama-tama, appa lupa membawa uang untuk membeli barang-barang yang mereka perlukan dan baru menyadarinya setelah mereka di stasiun bus. Pada akhirnya, Seung Woo, Yeon Ni, dan appa mau tidak mau kembali ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil uang. Kedua, untuk mencapai tempat perbelanjaan ini, mereka tidak berjalan kaki, melainkan menggunakan sebuah alat teleportasi sihir bernama portkey yang berupa sebuah lukisan. Perjalanan dengan portkey tadi tidak sepenuhnya dapat dikatakan enak, perutnya masih terasa agak mual sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seung Woo menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran tidak menyenangkan tersebut dan mengembalikan konsentrasinya pada toko yang sedang ia kunjungi; sebuah toko tua dengan lantai yang rasanya jika dihentakkan sedikit akan rubuh dan penataan yang jauh lebih tidak karuan dibandingkan kamarnya yang sering disebut umma sebagai ‘kapal pecah’. Bocah berparas Asia itu mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum berjalan perlahan mendekati kerumunan manusia. Sedari tadi ia hanya berdiri di pinggir, melipat tangannya dan memperhatikan orang-orang yang heboh mengerumuni para pegawai toko tersebut terus menerus meneriakkan tanggal lahir mereka. Sungguh, jika ini bukan untuk keperluan sekolah barunya –dan agar Yeon Ni berhenti merengek agar mereka membeli tongkat dulu- maka Seung Woo tidak akan menginjakkan kakinya di tempat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah yang baru saja merayakan ulang tahun kesebelasnya ini berjinjit sedikit, mencoba melihat dimana pegawai toko ini berada. Walaupun ia cukup tinggi untuk anak seumurannya, tetap saja ia tidak lebih tinggi dari beberapa orang tua yang berdiri di hadapannya dan terus menerus meneriakkan agar pegawai toko menghampiri mereka. Sedari tadi ia belum membuka mulutnya dan tidak berencana untuk melakukan hal tersebut. Percuma, suaranya tidak akan terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seung Woo-ah, tidak beli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seung Woo menoleh mendengar suara tersebut. Appa berdiri di belakangnya, menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum dan ia hanya membalas dengan tatapannya yang biasa, bahasa yang dimengerti oleh keluarganya sebagai ‘malas’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi kamu perlu tongkat ini...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama. Seung Woo tidak membuka mulutnya dan hanya bergeming dengan tatapan skeptis sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah...” Lelaki paruh baya yang berstatus ayahnya itu akhirnya menyerah, dan berjalan maju untuk menerobos kerumunan manusia tersebut. Ia menjulurkan kepalanya beberapa kali sebelum menemukan seorang anak perempuan yang sedari tadi sibuk melayani pelanggan. ”Tolong satu tongkat. Untuk 12 Desember.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9039865601743739773-7783079554446292210?l=sleeproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sleeproject.blogspot.com/feeds/7783079554446292210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/toko-tongkat-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/7783079554446292210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/7783079554446292210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/toko-tongkat-1.html' title='Toko Tongkat #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9039865601743739773.post-106549665568956280</id><published>2009-10-19T02:51:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T03:07:08.132-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1991'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coffee'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Laliv'/><title type='text'>Coffee #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Di tepi jalanan Laliv terlihat uap tipis membumbung. Uap tersebut berasal dari sebuah gelas kertas berisi cairan hangat berwarna gelap, menguap, dan akhirnya berkondensasi perlahan membentuk asap putih hangat. Di balik uap tipis itu, ada dua pasang mata mengintip. Kedua bola mata itu putih bersih, dengan iris coklat gelap mengelilingi pupil hitam sebagai intinya. Sudah lima menit lebih sepasang bola mata tersebut tidak bergerak, hanya kelopak pembungkusnya saja yang menutup dan membuka sekali dua kali. Kedua bola mata tersebut dimiliki oleh seorang anak laki-laki berparas Asia yang sedari tadi berdiri diam, menggenggam gelas kertas berisi cairan kafein panas yang menghasilkan uap yang mengganggu pandangannya. Tetapi bocah itu tidak sepenuhnya terganggu, sepertinya. Uap panas seperti itu agak menghangatkan wajahnya di tengah udara dingin yang mengelilinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah laki-laki itu sekali dua kali menaikkan lengan kanannya yang menggenggam gelas berisi kopi tersebut dan menuangkan isinya ke dalam mulutnya, tetapi walaupun begitu, kedua matanya tidak mengalihkan pandang pada gelas yang ia pegang. Kedua bola mata tersebut sedari tadi terus menatap lurus, seakan mencoba melihat jauh ke depan. Tetapi hal tersebut hanya bertahan selama 10 menit ke depan, setelah itu pemiliknya terlihat lelah dan menutup matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama sampai pemiliknya membuka lagi kelopak matanya dan akhirnya bergerak setelah nyaris setengah jam berdiri di titik yang sama. Bocah berambut hitam kecoklatan itu berjalan perlahan menyebrangi jalan, menabrak beberapa orang dan mengucapkan maaf pelan pada mereka yang terkena tumpahan kopinya, sampai akhirnya ia sampai ke sisi seberang dan berhadapan dengan sebuah kursi kayu panjang. Tangan bocah itu terulur, meletakkan gelas kopinya di atas kursi tersebut lalu ia menempatkan dirinya sendiri untuk duduk dengan nyaman. Pandangan bocah itu sekarang tertuju pada kakinya, tepatanya pada ujung sepatunya yang berlubang dan kumal, hampir sama seperti tumpukan pakaian lain yang menyelubungi tubuhnya; jaket berwarna biru tua yang terlihat kusam dan jarang dicuci, syal sewarna kulit yang terlilit asal pada leher bocah tersebut, dan celana panjang khaki kusut yang senada dengan syalnya. Entah siapa yang memilih pakaian tersebut, yang jelas warna-warna itu berhasil membuat kulitnya yang sudah pucat menjadi lebih pucat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah Asia itu menguap sekarang, wajahnya menunjukkan tanda-tanda kantuk. Tangannya bergerak untuk mengusap kedua matanya. Setelah beberapa detik mengerahkan seluruh usahanya untuk memerangi kantuk, akhirnya ia kalah. Matanya yang lelah menutup perlahan. Begitu pula dengan tangannya yang berhenti bergerak dan ia letakkan di atas pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9039865601743739773-106549665568956280?l=sleeproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sleeproject.blogspot.com/feeds/106549665568956280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/coffee-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/106549665568956280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/106549665568956280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/coffee-1.html' title='Coffee #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9039865601743739773.post-6042120254988200623</id><published>2009-10-15T09:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T09:33:51.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat Tahun Pertama'/><title type='text'>Surat Tahun Pertama</title><content type='html'>Episode kehidupan Lee Seung Woo kali ini dimulai dengan latar tempat berupa sebuah ruangan 4 x 6 meter yang tiap dindingnya dilapisi cat putih, berisi tempat tidur, meja, dan sebuah lemari berukuran sedang dan beberapa benda lain yang tercecer dimana-mana yang ia klaim sebagai kamarnya sendiri sejak empat tahun yang lalu, latar waktu berupa siang hari menjemukan di musim dingin—saat dimana orang-orang tidak dapat keluar rumah karena dinginnya cuaca dan tidak ada hal berarti yang dapat dilakukan di rumah karena saluran TV Channel One mati karena pemancar di daerah mereka diterjang badai semalam, dan latar suasana sepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tipikal&lt;/em&gt;. Sudah berapa kali ia mendapati dirinya baru terbangun siang hari, apalagi saat liburan seperti ini. Waktu tidurnya kacau, ia dapat tidur tiba-tiba dan bangun tiba-tiba pula. Aturan dua puluh empat jam perhari sudah tidak berlaku untuknya, kalender dan angka-angka yang tertera hanya simbol saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah berambut coklat itu mengusap kepalanya sebelum mengucek kedua matanya, berusaha menyingkirkan rasa sakit yang menghujam bagian belakang kepalanya. Biasanya rasa sakit di kepalanya—akibat dari waktu tidurnya yang kacau ini—tidak bertahan lama, dan tidak sesakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, namanya juga Lee Seung Woo, bocah itu memilih untuk mengambil botol termos yang terjatuh ke bawah kolong tempat tidurnya dibanding dengan memakan paracetamol yang ada di sebelahnya. Menundukkan tubuhnya agar kepalanya dapat melongok ke dalam, Seung Woo lalu menjulurkan tangannya untuk meraih termos besi yang tergeletak begitu saja di dalam kolong tempat tidurnya. Tangannya yang panjang terjulur untuk mengambil silinder besi tersebut, ujung-ujung jemarinya menyentuh permukaan dingin yang licin termos tersebut dan menggerakannya perlahan agar benda itu menggelinding perlahan ke arahnya. Dari suara pelan yang ditangkap telinganya, ia memperkirakan kalau termos itu belum benar-benar kosong. Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seung Woo sekarang mengocok termos tersebut sambil mendudukkan dirinya di atas tempat tidur dan ia yakin sekarang kalau termos tersebut tidak kosong (walaupun tidak penuh juga). Membuka tutupnya perlahan, ia lalu menggunakan tutup termos itu untuk dijadikan gelas. Pelan, ia memutar tutup kedua termos tersebut dan hidungnya menangkap aroma tajam yang keluar, aroma familiar yang sudah seperti aroma tubuhnya sendiri; kopi. Mengendus pelan, Seung Woo dapat merasakan kalau sudah tidak ada lagi uap hangat yang akan menyusul. Udara dingin turut mendinginkan termos yang baru ia isi semalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu bukan perkara. Dalam hitungan detik, termos dalam genggamannya sudah menguarkan uap lagi, menandakan kalau cairan di dalamnya menghangat kembali. Tanya kenapa? Ia sendiri tidak mengerti. Seung Woo tidak ingat sejak kapan ia bisa melakukan hal ini dan ia tidak mempermasalahkan mengapa. Ia juga tidak pernah menunjukkannya kepada umum, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Axel, Axel, bangun dong. Tahu tidak ini surat apaan?” Suara adiknya membahana di lorong depan kamarnya, membuatnya tersentak sedikit dan nyaris menjatuhkan termosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sial&lt;/em&gt;. Dengan cepat ia menaruh termos tersebut di lantai sebelahnya dan menenggak kopi yang sudah tertuang ke gelas penutup termos tersebut agar adik perempuannya itu tidak sadar. (Yang sebenarnya adalah keputusan bodoh karena tidak lama kemudian ia langsung merasakan perih di lidahnya akibat terkena cairan panas tiba-tiba.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adiknya, Yeon Ni, memasuki kamarnya dengan cepat, tidak mengetuk pintunya terlebih dahulu dan mendudukkan dirinya di sebelah Seung Woo seakan ia pemilik kamar tersebut. Mencoba mengeluh? Tidak. Ia malas mengeluh. Pernah sekali Seung Woo melaporkan pada appa kalau Yeon Ni mengganggu jam tidurnya dan anak perempuan itu ngambek sampai tiga hari lebih. Padahal seingatnya, mereka sekeluarga sudah bersepakat untuk tidak mengganggu saat ia tidur, kecuali pada saat-saat tertentu. Seperti kata dokter. Tapi, sudahlah. Itu sudah lewat. Penuhi saja permintaan Yeon Ni dan adiknya itu akan berhenti mengganggunya. Mudah kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti panggil aku ‘Axel’,” bocah itu berucap pelan sebelum melakukan tugasnya, antara ingin dan tidak ingin adiknya mendengar kata-katanya tadi. Ia tidak suka nama baru itu dan jarang menggunakannya, hanya untuk perkenalan formal saja. Seung Woo lalu mengambil surat yang Yeon Ni lambai-lambaikan di hadapannya, deretan karakter Cryllic langsung menyapa kedua mata coklat miliknya. Seung Woo langsung mengerti kenapa adiknya membutuhkan bantuannya. Tapi yang lebih mengganggu pikirannya, siapa yang mengirim mereka surat dengan bahasa Rusia? Mereka, bukan hanya Yeon Ni atau dirinya. Dan setahunya tidak ada kenalan Yeon Ni yang mengenal dirinya, dan ia sendiri tidak memiliki kenalan dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya memicing seraya bergerak mengikuti deretan karakter yang ada. Ia hapal karakter Cryllic, hanya saja akhir-akhir ini rasanya tulisan-tulisan tersebut seakan menyatu. Mungkin sudah saatnya ia mengekanan kacamata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah sihir... Durmstrang. Ini undangan dari Sekolah Sihir Durmstrang.” Kata-kata tersebut kelua patah-patah dari mulutnya, Seung Woo sendiri tidak yakin dengan apa yang ia baca. Jarinya menunjuk ke beberapa kata dan mulutnya mengeluarkan penjelasan, tetapi pikirannya tidak bersama mereka. Apa benar ada sekolah sihir ini? Darimana Yeon Ni mendapat surat ini? Dan kenapa namanya tertera di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;’Hoaahm.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanannya berhenti bergerak, begitu pula dengan mulutnya. Matanya melirik ke sekitarnya, berusaha mencari obat yang seharusnya ia makan (bukan kopi). Tapi sebelum ia menemukan obatnya, perhatiannya jatuh pada termos kopinya yang terbuka dengan uap panas yang membumbung. Untuk beberapa detik, Seung Woo menghentikan gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sihir ya?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9039865601743739773-6042120254988200623?l=sleeproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sleeproject.blogspot.com/feeds/6042120254988200623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/surat-tahun-pertama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/6042120254988200623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/6042120254988200623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/surat-tahun-pertama.html' title='Surat Tahun Pertama'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9039865601743739773.post-6042805493509311026</id><published>2009-10-15T09:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T09:30:53.263-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biodata'/><title type='text'>Biodata Karakter</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;|–General Information–|&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama awal: Axel / Seung Woo&lt;br /&gt;Nama tengah: Nathanov&lt;br /&gt;Nama akhir: Lee &lt;br /&gt;Status darah: Pureblood&lt;br /&gt;Kebangsaan: Rusia-Korea&lt;br /&gt;Bahasa yang digunakan: Korea, Rusia, Inggris&lt;br /&gt;Tempat lahir: Incheon&lt;br /&gt;Tanggal lahir: 12 Desember 1980&lt;br /&gt;Barang elektronik yang dibawa ke Durmstrang Institute: N/A&lt;br /&gt;Sapu terbang: N/A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;|–Appearance–|&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata: Coklat tua&lt;br /&gt;Rambut: Hitam kecoklatan&lt;br /&gt;Berat: 150 cm&lt;br /&gt;Tinggi: 48 kg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan: Paras Asia dengan mata sipit dan rambut hitam. Kulitnya putih Kaukasia karena keturunan dari ibunya, agak pucat. Rambut selalu berantakan, begitu pula dengan penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;|–Personality–|&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian secara umum: Pemalas. Ingin semua masalah cepat beres, sehingga kadang-kadang cari cara mudah tanpa memikirkan efeknya. Kadang terlalu penurut, karena menurutnya dengan cara itulah permintaan orang cepat selesai dan ia tidak direpotkan lagi. Tidak banyak omong, tidak pernah membuka diri terlebih dahulu pada orang asing, itu semua karena ia malas. Terus terang kalau bicara, tidak peduli apa kata orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaran/Hobby: Tidur, tempat tenang.&lt;br /&gt;Ketidak sukaan/Phobia: Tempat yang ramai, diganggu, orang-orang cerewet, orang-orang yang terlalu banyak mengeluh.&lt;br /&gt;Kebiasaan: Membawa termos berisi kopi kemana-mana, dan lebih memilih untuk minum kopi dibandingkan obat yang seharusnya ia makan. &lt;br /&gt;Kelebihan: Cepat menangkap dan mengolah informasi baru, pada dasarnya pintar dan logis.&lt;br /&gt;Kekurangan: Pemalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;|–Personal Background–|&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua: &lt;br /&gt;- Ayah Nathan Viktoriov Lee&lt;br /&gt;- Ibu Lenora Ignateva Filatova&lt;br /&gt;Saudara kandung: Veronica Lee / Lee Yeon Ni&lt;br /&gt;Anggota keluarga yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;|–Additional Information–|&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ia lebih suka dengan nama aslinya, 'Seung Woo'. Keluarganya memanggilnya dengan nama Korea-nya. Nama 'Axel' hanya ia gunakan untuk berkenalan dengan orang asing. &lt;br /&gt;- Menderita Narkolepsi tahap awal membuatnya sering tertidur tiba-tiba dan sulit tidur di malam hari (tidak mampu mengontrol keinginan untuk tidur). Tetapi frekuensinya tidak terlalu sering dan beberapa obat masih bisa menahan hal tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9039865601743739773-6042805493509311026?l=sleeproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sleeproject.blogspot.com/feeds/6042805493509311026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/biodata-karakter.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/6042805493509311026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/6042805493509311026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/biodata-karakter.html' title='Biodata Karakter'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9039865601743739773.post-7133286496117355228</id><published>2009-10-10T04:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T04:22:36.923-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='test post'/><title type='text'>Test Post</title><content type='html'>Just a Test post. will be deleted later. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9039865601743739773-7133286496117355228?l=sleeproject.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sleeproject.blogspot.com/feeds/7133286496117355228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/test-post.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/7133286496117355228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9039865601743739773/posts/default/7133286496117355228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sleeproject.blogspot.com/2009/10/test-post.html' title='Test Post'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
